1. IT Dilemma #10+1 : There ain’t no such thing as a free lunch

    Ini adalah seri IT Dilemma pertama yang rada panjang dan rada nyambung dengan serial sebelumnya. Merupakan hasil repostase dari apa yg gw tulis di milis #startuplokal. ^_^ ~ yaa, namanya juga “Quoting MySelf”:

    Paradigma opensource di indonesia [apalagi bagi pengendara plat merah] itu lebih condong ke arah free lunch ketimbang free speech. Gw pernah “curhat” dikit ttg itu di sini. Dan itu ternyata juga menjadi perspektif kebanyakan industri kita.

    Itu sebabnya sejak beberapa tahun yang lalu mulai digaungkan “Software as a Service” (SaaS) sebagai model bisnis alternatif agar software-software yg di-implement secara FREE (sesuai pola pikir client kebanyakan) masih bisa  di-monetize agar menghasilkan duit. Dan bahkan beberapa case dari beberapa pelaku industri software yang menerapkan SaaS — ternyata model bisnis ini masih diterima oleh karakter pasar Indonesia, dan jauh lebih menguntungkan.

    SaaS — adalah menonjolkan bahwa belanja software itu adalah tidak hanya berhenti di urusan perdagangan barang doank (goods), tapi bisa lebih di-explore dengan perdagangan jasa (service). Mind-set market Indonesia ini sudah teredukasi lama bahwa software bagus itu harga paling mahal = 20 rebu sekeping DVD ini yang cukup menyulitkan pelaku industri software dalam ‘menaikkan taraf kesejahteraan mereka’ dengan bekerja pada core-competency masing2 : menghasilkan karya software. Oleh karena itu, konsep SaaS ini menjadi merupakan salah satu alternatif yang layak untuk di-explore lebih lanjut.


    Ada banyak model SaaS ini, contohnya (sebagian) adalah:

    1. gratisin aplikasi, tapi pelatihannya mbayar. 

    Facebook gratis, tapi di kampus dekat kantor gw — pernah gw lihat ada pelatihan facebook utk PNS. wakakaka… Dan kasus gini ternyata banyak di-implement utk ‘dagang’ aplikasi (even to the complex genre like : ERP/information systems). Software SIM-RS gratis (pake Care2x), pelatihannya mbayar. Software Sisfokampus.net gratis, pelatihannya mbayar. Et cetera..

    2. gratisin aplikasi, tapi kasih persyaratan bagi hasil. 

    Pernah menjual software POS bikinan sendiri dengan harga 0 rupiah? Sekalian ngasih hardware, cash drawer, printer pula? Gw pernah. Implement ke salah satu resto, dan gw kasih persyaratan setiap transaksi makanan yg terjadi di sana gw charge 1000 perak. Kalo transaksi minuman, gratis. Hasilnya, lebih menguntungkan ternyata daripada beli lepas.

    3. gratisin aplikasi, tarik investor yang mau menjadikan aplikasi kita sebagai icon (atau sponsor tunggal). 

    Tau ionopolis? Atau kalo mau nostalgia back in years — game playstation one : Pepsiman? Mereka mbayar mahal itu ke produsen game2 tsb. End user tetap gratis… — Dan ternyata bukan cuman aplikasi di ‘genre’ games/multimedia aja yg bisa di-gini-in. Secara akal sederhana juga logis, karna bisa dijadikan brand untuk promo/marketing. Tapi coba explore dikit tentang sebuah produk bisnis, trus jadikan itu sebagai produk CSR (corporate social responsibility) sebuah perusahaan besar. Lempar aplikasi-nya ke pasaran gratis. Produsen dapat duit : dibayarin ama company yg mau CSR. Company tersebut dapat duit, dari belanja customer terhadap produk mereka karena respek terhadap program CSR tsb. Dan pada akhirnya, siklus perdagangan itu terjadi dengan sendirinya.

    4. gratisin aplikasi, bentuk loyalitas (candu, addict), trus jual ‘komoditi lain’ dari aplikasi itu.

    Ini masih berbicara di ranah monetizing sebuah aplikasi game. Ragnarok contohnya. atau Mafia Wars dan game2 facebook lainnya. Bisnisnya adalah jualan voucher untuk unlocking some power dari tokoh2 game yg kita mainkan. Dipercaya atau enggak, bangsa indonesia lebih mudah mengeluarkan duit untuk beginian ketimbang beli sesuatu ‘yang lebih berguna’ hehehe…

    5. gratisin aplikasi, lempar ke publik seluas-luasnya, monetize dalam bentuk menyediakan ads box.

    … ah kalo yg ini kagak usah gw paparkan lagi. gw yakin banyak yg pakar ads di sini (#startuplokal) :D

    Cukup sebel juga nie postingan ‘tenggelam’ di milis gara2 ter-distraksi ama celotehan seorang dewa mabuk dari milis sebelah (JUG). Tapi whatever lah…, just my 2 cents.