1. IT Dilemma #10 : Free Lunch vs Free Speech

    Lihat artikel detik inet di sini
    ada nukilan paragraf terakhir berikut:

    “Kalau pakai software berbayar, memang siapa yang mau membayarnya? Dari pemerintah sudah tidak lagi menganggarkan untuk pembelian software. Solusinya ya menggunakan open source,” pungkasnya.


    Aku kuatir, opensource ini ke depan-nya akan lebih banyak dianggap sebagai PELARIAN terhadap ketidak-mampuan membeli software berbayar.

    Trus kalo kita deploy alternatif software open-source — misalnya, anggaplah : ALFRESCO untuk document management systems. Kita nggak bisa membandrol dengan harga “konsultan” yang cukup tinggi ke mereka. Karena ntar so pasti akan di-counter : “mahal amat nie proposal! bukannya alfresco ini open-source?”

    Hmm…

    Paradigma yang seperti ini sebaiknya kudu di-berantas. Kalo enggak, kasihan para penggiat open-source. Mereka hanya akan ‘dihargai’ dengan uang receh, karena asumsi-nya produk2 tersebut adalah MURAH atau malah GRATIS. Padahal, bahkan untuk sekedar customize aja perlu duit. Sama pusingnya, bahkan lebih pusing.

    Open-source tidak ditujukan untuk bangsa yang hanya *pakar* dalam meng-konsumsi produk. Tapi tetap ada produksi di situ, configuration management di situ, ada modif-modif di situ.Dan untuk bisa mendukung hal-hal tersebut, sudah saatnya vendor lokal dan konsultan lokal dihargai di negeri sendiri.